Beranda
Budaya
Indonesia
Sejarah
Seni
warisan
Janji Semen Indonesia Lindungi Lukisan Cadas di Wilayah Tambangnya

Perlindungan Situs Prasejarah Leang Bulu Sipong 4 di Sulawesi Selatan


Situs prasejarah Leang Bulu Sipong 4 yang berada di Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, kini mendapatkan perlindungan melalui pemberlakuan kawasan konservasi seluas 31,64 hektare. Gua yang terletak di Bukit Bulu Sipong ini menyimpan seni lukisan cadas yang diperkirakan berusia sekitar 44 ribu tahun. Lukisan tersebut menggambarkan adegan perburuan binatang oleh manusia pada masa prasejarah.

Situs kebudayaan ini terletak di lahan tambang tanah liat milik PT Semen Tonasa, yang berada di Kelurahan Bontoa, Kecamatan Minasatene. Total luas konsesi tambang anak usaha PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) ini mencapai 280 hektare. Dari jumlah tersebut, 31,64 hektare dialokasikan sebagai kawasan konservasi, yang setara dengan 11,3 persen dari total area tambang.

Corporate Secretary SIG, Vita Mahreyni, menjelaskan bahwa kawasan konservasi tersebut akan dikembangkan menjadi Taman Kehati dan Geopark Bulu Sipong. Dengan demikian, tidak hanya situs arkeologi yang dilindungi, tetapi juga habitat flora dan fauna endemik, sebagai bagian dari komitmen perusahaan terhadap pelestarian lingkungan dan budaya.

"Bulu Sipong diharapkan menjadi sarana edukasi dan membantu mempromosikan sejarah serta budaya peradaban kepada masyarakat luas," ujarnya dalam keterangannya di Jakarta, Kamis, 5 Maret 2026.

Berdasarkan buku Cultural Heritage Management Plan oleh PT Semen Tonasa, Bulu Sipong 4 merupakan salah satu gua prasejarah di Bukit Bulu Sipong yang ditemukan oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Makassar pada 2016. Penemuan tersebut kemudian diikuti dengan penelitian lanjutan, termasuk pengambilan sampel penanggalan pada gambar cadas.

Terdapat pula perjanjian kerja sama antara PT Semen Tonasa dan Kementerian Kebudayaan dalam rangka pelindungan gua prasejarah tersebut.

Menurut Vita, PT Semen Tonasa telah meresmikan Taman Keanekaragaman Hayati (Kehati) dan Geopark Bulu Sipong untuk melindungi keanekaragaman hayati di sekitar area tambang serta kawasan Geopark dan Purbakala. Peresmian itu dilakukan pada 18 Mei 2018.

Bulu Sipong 4 sebagai salah satu geosite di Geopark Maros Pangkep resmi masuk dalam daftar UNESCO Global Geopark berdasarkan keputusan Sidang Dewan Eksekutif UNESCO ke-216 di Paris, Prancis pada 2023.

Vita menegaskan bahwa penetapan kawasan Bulu Sipong sebagai kawasan konservasi menjadi bukti komitmen SIG dan PT Semen Tonasa terhadap pembangunan berkelanjutan yang menyeimbangkan industri dengan lingkungan dan nilai budaya. Perusahaan juga berkolaborasi dengan LPPM Universitas Hasanuddin dalam merilis Cultural Heritage Management Plan atas situs prasejarah Bulu Sipong 4.

Dalam pengelolaan Bulu Sipong, PT Semen Tonasa bekerja sama dengan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XIX, antara lain untuk pemantauan getaran dan udara ambien secara berkala, pengecoran jalan sepanjang 1.800 meter, dan penyiraman jalan tambang secara berkala untuk mengurangi debu.

Perusahaan juga berkomitmen untuk mengedukasi karyawan dan masyarakat sekitar tentang pentingnya pelestarian situs prasejarah, memasang rambu, dan pembatasan akses dengan pemasangan pagar sepanjang 1.900 meter, serta revegetasi di kawasan konservasi.

Selain seni cadas purbakala, Taman Kehati dan Geopark Bulu Sipong juga menjadi habitat bagi berbagai jenis flora dan fauna. Hingga 2025, terdapat 25 jenis flora dengan total jumlah tanaman sebanyak 2.898 pohon, seperti eboni, kayu kuku, dan bitti yang merupakan tanaman endemik lokal.

Selain flora, Taman Kehati dan Geopark Bulu Sipong juga menjadi habitat alami bagi 41 jenis satwa liar, termasuk 37 jenis burung, 2 jenis primata, serta 1 unggas dan 1 reptil. Total jumlah satwa yang berhasil terpantau hingga 2025 sebanyak 869 ekor, termasuk monyet dare dan tarsius yang merupakan primata endemik lokal yang dilindungi.

Pada 2025, Taman Kehati dan Geopark Bulu Sipong mencatatkan nilai Indeks Kehati Flora sebesar 1,54, atau naik dari periode 2020 sebesar 1,38. Indeks Kehati Fauna juga tercatat naik menjadi 2,85 dari sebelumnya 2,51 pada 2020. "Taman Kehati dan Geopark Bulu Sipong menjadi pelindung bagi keanekaragaman hayati yang berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem alam."

Tidak ada komentar