
Mengenal Sepuluh Pilar dalam Hubungan Pernikahan
Ada kalanya perjalanan rumah tangga diuji yang akhirnya membuat seseorang mempertanyakan, apakah pernikahan tersebut sebaiknya dipertahankan atau dilepaskan. Psikolog Klinis Winona Lalita R., M.Psi., Psikolog menjelaskan bahwa tidak ada ukuran pasti untuk menentukan apakah sebuah pernikahan layak dipertahankan atau diakhiri. Hal ini kembali lagi ke dinamika pasangan masing-masing.
Ibarat rumah, pernikahan berdiri di atas sepuluh pilar utama. Setiap pilar memiliki fungsi penting dalam menopang stabilitas hubungan. Winona mengajak pasangan untuk mengecek dari sepuluh pilar tersebut, mana saja yang masih berdiri kuat, mana yang mulai retak, dan mana yang ternyata sudah hancur.
Berikut adalah sepuluh pilar penting dalam pernikahan:
- Masalah kepribadian yaitu kecocokan karakter dan gaya hidup antara pasangan.
- Komunikasi, seberapa terbuka, jujur, dan empatik pasangan dalam berinteraksi.
- Resolusi konflik, cara pasangan menghadapi dan menyelesaikan perbedaan.
- Masalah finansial, termasuk pengelolaan dan kesepakatan soal keuangan.
- Hobi dan kualitas diri, kemampuan menjaga waktu pribadi sekaligus waktu bersama.
- Hubungan seksual, kesepakatan dan keintiman fisik yang terjaga sehat.
- Gaya pengasuhan, kesamaan pandangan dalam mendidik anak.
- Budaya keluarga dan lingkungan, kemampuan beradaptasi dengan keluarga besar.
- Pembagian peran dalam rumah tangga, siapa yang bertanggung jawab atas apa.
- Nilai religius, bagaimana pasangan memaknai hubungan mereka dengan Tuhan.
Menilai Kekuatan Pilar dalam Hubungan
Menurut Winona, sebelum memutuskan bertahan atau berpisah, pasangan perlu menilai kondisi pilar-pilar tersebut satu per satu. Ia menjelaskan bahwa rumah tangga bisa diibaratkan seperti sebuah rumah dengan sepuluh pilar penting. Dari sepuluh pilar itu, pertimbangkan mana yang masih baik dan tidak.
Misalnya, jika dari sepuluh pilar itu ada dua yang mulai hancur, pasangan perlu mempertimbangkan apakah delapan pilar lainnya masih cukup kuat menjadi alasan keberlanjutan rumah tangga. Jika sebagian besar pilar masih kuat dan bisa diperbaiki, pernikahan tersebut layak diperjuangkan. Akan tetapi, jika sebagian besar sudah runtuh dan menyebabkan ketidaknyamanan mendalam, mungkin jalan terbaik adalah berpisah dengan cara yang sehat.
Melepaskan Bukan Selalu Bentuk Kegagalan
Winona menekankan bahwa perceraian tidak selalu menandakan kegagalan dalam hidup. Keputusan untuk melepaskan bisa menjadi bentuk keberanian seseorang untuk menjaga kesehatan mental dan kesejahteraan dirinya. Melepaskan bukan berarti kegagalan, bisa jadi ini bentuk perjuangan kita untuk tetap mempertahankan kesehatan mental kita.
Meskipun demikian, ia juga mengingatkan agar pasangan tidak terburu-buru mengambil keputusan berpisah. Setiap pasangan perlu meninjau ulang dan menilai dengan jujur apakah hubungan tersebut masih bisa diperbaiki atau tidak. Jangan juga terburu-buru untuk langsung melepas. Kamu perlu menilik ulang, tinjau kembali, masih bisa diperbaiki atau tidak.
Pernikahan yang Seimbang
Pernikahan bukan sekadar tentang bertahan, melainkan juga tentang bagaimana kedua pihak saling tumbuh dan memperkuat pilar yang menopangnya. Dengan mengenali sepuluh pilar tersebut, setiap pasangan dapat lebih jernih menilai arah hubungan mereka, apakah masih bisa diperjuangkan, atau justru sudah saatnya dilepaskan demi kebaikan bersama.
Tidak ada komentar