Ogoday.com - Tempat Pembuangan Sampah 3R (reduce, recycle, reuse) atau TPS3R Semper, Jakarta Utara, tak hanya soal fasilitas pengolahan sampah ibu kota. Keberadaan infrastruktur ini turut mendorong pembangunan ekosistem manusia di sekitarnya agar lebih peduli lingkungan.
TPS3R Semper merupakan satu dari 4 fasilitas sejenis yang diresmikan Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno, Jumat (21/3/2025). Di saat yang sama, Rano, didampingi Kepala Dinas Lingkungan Hidup Asep Kuswanto dan jajarannya, juga meresmikan pencanangan aktivasi 870 bank sampah baru dan reaktivasi 852 bank sampah yang tidak aktif.
![]() |
| Peduli Sampah |
"Ini salah satu usaha dan tentu kita harus berkorban, kalau tidak suatu saat kita bisa tenggelam oleh sampah. Hari ini menjadi tanggung jawab kita semua antara Pemprov dan masyarakat Jakarta," kata Rano, ketika itu.
Jakarta sejauh ini membuang sekitar 8.000 ton sampah per harinya di Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat.
- Menteri LH: Pendanaan TPS3R Akan Berkolaborasi dengan Kopdes Merah Putih
- Pramono Resmikan Tangki Septik Komunal, Dorong Pemanfaatan Biogas
Delapan bulan setelah peresmian TPS3R Semper, Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Utara turut membangun masyarakat di sekitar lokasi agar lebih paham soal pengolahan sampah.
Kepala Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Utara Edy Mulyanto, dalam wawancara dengan Ogoday.com -di Kantor Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Utara, Selasa (25//11/2025), mengatakan pihaknya menempuh berbagai metode.
Pertama, edukasi generasi muda soal pengolahan sampah. Salah satu yang dilakukan adalah lewat sosialisasi Sekolah Adiwiyata, yakni sekolah yang menerapkan hidup peduli lingkungan.
Mulai digelar secara nasional sejak 2006, Program Sekolah Adiwiyata sempat direvitalisasi menjadi Gerakan Peduli dan Berbudaya Lingkungan Hidup di Sekolah (Gerakan PBLHS). Program ini memberikan kontribusi berupa pengurangan timbulan (volume) sampah lewat pengelolaan dengan metode 3R, penanaman dan pemeliharaan pohon/tanaman, pembuatan lubang biopori, hingga sumur resapan serta konservasi energi dan air.
“Kami telah mengumpulkan seluruh kepala sekolah di Jakarta Utara agar mereka siap menjadi Sekolah Adiwiyata. Hampir 460 sekolah yang kami undang, dan dari jumlah itu belum sampai 10% yang berstatus Sekolah Adiwiyata,” kata Edy.
Dari hasil pertemuan tersebut, 264 sekolah menyatakan siap menjadi Sekolah Adiwiyata. Sudin LH Jakarta Utara menargetkan 100% sekolah di wilayahnya mengikuti program tersebut. Terlebih, orang tua murid juga senang sekolah anaknya berstatus Sekolah Adiwiyata, lantaran anak-anak turut dididik untuk tahu urusan rumah tangga.
Kedua, penyediaan personel pemantau kebersihan. Edy mengakui tantangan besar dalam penanganan sampah ini upaya untuk mengubah pola pikir dan perilaku warga.
Untuk mengatasi tantangan ini, pihaknya mendorong ketersediaan Penyedia Jasa Lainnya Orang Perorangan (PJLP), anggota Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK), dan pasukan oranye (Petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum/PPSU) di setiap RW di Jakarta Utara. Personelnya, kata dia, merupakan warga lokal agar bisa mengawal kebersihan lingkungan dan lebih aman.
Ketiga, edukasi warga soal kedisiplinan pembuangan sampah. Sudin LH Jakarta Utara pun menerapkan program OTT (operasi tangkap tangan) terhadap orang-orang yang membuang sampah sembarangan dengan melibatkan Lurah dan Camat.
Sanksinya berupa denda uang Rp500 ribu bagi pelaku pelanggaran, untuk kemudian diproses di kantor kelurahan dan masuk prioritas pembinaan sosial.
“Jakarta Utara itu wilayahnya paling luas di Jakarta. Kami berulang kali melakukan OTT. Kami punya pasukannya [untuk OTT], termasuk meminta bantuan dari pasukan orange dan satpol PP,” kata Edy.
Keempat, sosialisasi soal upaya menjaga lingkungan dan kebersihan dalam ajang Car Free Day (CFD) sebanyak tiga kali dalam sebulan.
Kelima, dorongan kepada 460 RW di seluruh Jakarta Utara untuk memenangkan penghargaan bidang lingkungan, Kalpataru.
Penyuplai Bahan Bakar
Timbulan sampah di Jakarta Utara saat ini mencapai sekitar 1.300 ton per hari.
Menurut asalnya, 51% sampah bersumber dari rumah tangga, hampir 28% dari kawasan industri/pelaku usaha (hotel, restoran, kafe, mal), dan sisanya dari fasilitas umum seperti pasar dan gedung olahraga. Berdasarkan karakteristiknya, 49% sampah di Jakarta Utara adalah sampah organik, 51% lainnya adalah anorganik.
Dalam sehari, TPS3R Semper, yang merupakan salah satu dari tiga TPS3R di Jakarta Utara, menerima sekitar 5 ton sampah. Limbah-limbah itu kemudian dilakukan dipilah berdasarkan karakteristiknya.
Edy Mulyanto mengatakan sampah organik diolah untuk dijadikan pakan maggot (larva lalat yang jadi makanan ternak) atau pupuk kompos. Sementara, sampah anorganik akan diolah untuk menjadi bahan bakar alternatif Refuse Derived Fuel (RDF).
“Kalau sampah organik itu biasanya dari sampah warga, termasuk sampah gerobak lalu masuk ke TPS3R. Sedangkan sampah anorganik itu umumnya berasal dari bank-bank sampah,” kata Edy.
Proses pembuatannya bertahap, termasuk lewat pemilahan, pengeringan, pencacahan terhadap sampah anorganik yang bernilai kalor tinggi, seperti plastik, kertas, kain, dan karet.
Saat pengolahan tuntas, bahan ini bisa digunakan sebagai bahan bakar pengganti batubara pada industri semen. Contoh penggunaan RDF pada industri ialah seperti yang dilakukan oleh pabrik semen PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. (Indocement) dan PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SBI).
Saat ini, TPS3R Semper menghasilkan 25 ton bahan baku RDF siap pakai per hari. Senada, TPS3R lainnya di Jakut, yakni TPS3R Moa di Kecamatan Penjaringan menghasilkan 25 ton bahan baku per hari; TPS Rawa Badak Utara di Kecamatan Koja menghasilkan 25 ton per hari; TPS Sonhaji di Kecamatan Tanjung Priok punya kapasitas 50 ton per hari. Totalnya, Jakarta Utara menghasilkan 125 ton bahan baku RDF per hari.
Untuk pengolahannya, wilayah Jabodetabek baru memiliki dua pabrik pengolahan RDF. Yakni, di Rorotan, Cilincing, Jakarta Utara, dengan kapasitas 2.500 ton per hari RDF, dan di Bantargebang, Bekasi, dengan kapasitas 2.000 ton per hari RDF.
Selain di TPS3R, Edy menambahkan pengolahan sampah anorganik juga dilakukan lewat melakukan pengolahan lewat bank sampah. Fasilitas ini juga menerapkan 3R yang langsung melibatkan warga sekitar.
“Di Jakarta Utara ini, total ada 460 RW dan di setiap RW ada satu bank sampahnya. Kami juga punya satu bank sampah induk bernama Bank Sampah Kumala, yang mendapat penghargaan bank sampah induk terbaik se-Indonesia pada 2024,” tutup Edy.

Tidak ada komentar