Sebagian besar anak negeri ini, masih merasakan jika keadaaan ekonomi mereka masih sulit. Pendapatan ril mereka turun, ditambah lagi sebagian besar angggota keluarga mereka yang sudah masuk angkatan kerja masih menganggur, sembari menunggu lapangan kerja yang digaungkan tak kunjung menghampiri diri mereka ditambah lagi adanya kasus PHK yang melanda sebagian besar anak negeri ini selaku pekerja.
Ditengah gonjanng ganjing fenomena ekonomi tersebut, di tambah lagi adanya informasi yang membuat anak negeri ini "terperangak", karena ada informasi bahwa adanya bandara di salah satu bagian negeri ini yang konon beroperasi ilegal alias tanpaperangkat negara (lihat berita Metrotvnews.com, 28 November 2025) . Jika ini benar, maka berapa besar cuan yang hilang dan kerugian yang diderita oleh negeri ini dan dampak lainnya.
Tidak hanya itu, ada seorang sang menteri yang berjibaku memperjuangkan perbaikan ekonomi negeri ini pun, mendapat tantangan dan serangan bertubi-tubi dari kiri dan kanan.
Kini negeri ini "menangis", dan "marah", dengan menunjukkan kemarahannya melalui fenomena banjir di sana sini, banjir terjadi di belahan bumi "sumatera" di negeri ini.
Anak negeri ini yang bermukim di Aceh, di Sumatera Utara dan di Sumatera Barat (Padang) kini menderita bahkan kehilangan harta benda karena diterjang banjir. Alam mulai tidak bersahabat dengan anak negeri ini yang diakibatkan sebagaian atau oknum anak negeri ini yang merusak lingkungan, yang mengikuti hawa nafsu "rakus"-nya mengambil dan memusnakan isi alam (hutan) dan kandungan bumi yang ada.
Wajar, jika alam dan atau bumi dibelahan negeri ini "marah", dengan menunjukkan kekuatannya melalaui kekuasaan penciptanya, dengan adanya banjir disana sini. Banjir tidak hanya diwarnai air yang meluap dan atau naik kepermukaan saja, tetapi banjir diwarnai oleh "lumpur" yang membaw berbagai harta benda anak negeri ini. Banjir membawa kayu gelondongan yang terjadi di bumi Sumatera Utara.
Terlepas dari adanya yang membantah karena kayu gelondongan itu adalah kayu hasil penebangan liar (illegal logging), melainkan diduga kayu-kayu bekas tebangan yang sudah lapuk (lihat Kompas.com, 29 November 2025) dan ada yang menduga bahwa kayu gelondongan itu sebagai akibat dari penebangan liar (lihat Mediaindonesia.com, 29 November 2025). Ini perlu diselidiki secara tuntas dan yang jelas alam sudah menunjukkan bahwa melalui air dan atau melalui lumpur yang menghanyutkan kayu gelondongan itu di berbagi penjuru dan berbagai sudut badan alam di daerah itu menunjukan suatu indikasi kepada anak negeri ini bahwa ada suatu yang "tidak beres", yang harus "dibereskan".
Suatu pertanda, suatu indikasi, bahwa Tuhan Yang Maha Esa membuktikan kekuasaanya, membuktikan ayat-ayat-Nya. "Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebagian dari(akibat) perbuatan mereka, supaya mereka kembali ke jalan yang benar" (QS Ar-Rum:41).
Sudah Cukup Menyadarkan Kita?
Idealnya kemarahan alam dalam bentuk banjir dan lumpur hanyut tersebut, sudah cukup mengingatkan kita akan perbuatan kita yang merusak bumi dan atau mengganggu ekosistem dan merusak lingkungan yang ada.
Namun, apa daya, peringatan besar sudah diberikan Tuhan Yang Esa, berupa tsunami suatu cara yang dilakukan Tuhan Yang Masa Esa untuk menyadarkan kita, termasuk banjir ini, sepertinya belum juga menyadarkan kita, menyadarkan Anda, menyadarkan petinggi negeri ini, untuk berubah, untuk sadar, untuk kembali ke jalan yang benar. Seperti-nya kita akan terus menempuh jalan yang salah, jalan yang dimurkai-Nya. Kekuasaan yang kita miliki tidak kita gunakan untuk mencegah perbuatan jahat (nahi munkar), amanah yang kita emban, seakan-akan hanya pada saat pengambil sumpah saja kita patuhi, setelah itu sumpah tinggal sumpah.
Kekuasaan yang kita emban terkadang kita jadikan alat untuk "mengakali" anak negeri ini selaku orang yang kita pimpin, untuk menggolkan tujuan pribadi, kelompok dan atau golongan kita. Kalau pun ada kemauan untuk keluar dari masalah/kejahatan, terkadang yang muncul hanya "retorika" dan atau "narasi yang ber-api-api" yang luar bisa, namun sulit untuk dibuktikan?
Kita lupa bahwa Tuhan Yang Masa Esa yang Maha Kuasa dari semua apa yang ada di muka bumi ini bisa menurunkan "bencana", menurunkan "tentara"-nya, melalui ciptaan-Nya, seperti air dijadikan-Nya untuk menghancurkan bumi tempat kita berpijak, melalui tsunami, air ditiupkan/ditumpahkan-Nya melalui badai, dan berbagai tentara lain yang dimiliki-Nya. Sebetulnya, sudah cukup untuk menyadarkan kita! Sudah cukup untuk mengingatkan kita? Sudah cukup untuk menyetop kezoliman kita?, sudah cukup untuk mengembalikan peran kita sebagai khalifah fil ardhi di muka bumi ini?.
Mengapa Belum Juga?
Dalam pandangan umum, tidak sedikit anak negeri ini yang seharusnya berbuat mengajak anak negeri yang ada (umat) di muka bumi ini berbuat baik dan untuk mencegah perbuatan munkar (amar ma'ruf nahi munkar). Para toko agama, para ulama, para pencerdas bangsa, para pemikir, para ilmuwan, kebanyakan masih sibuk dengan urusan pribadi dan urusan masing-masing, tindkaan, perbuatan, kata-kata, tulisan yang akan merubah dan atau mencegah kezoliman menjadi kebaikan sangat minim sekali.
Entah mereka mau mengambil aman-nya saja, atau memang mereka sudah terjebak dengan hidup dan kehidupan yang serba glamor dan hedonis. Sehingga tidak heran jika sifat "tamak" dan "rakus" senantiasa bercokal dalam tubuh kita.
Apalagi bila kita mengacu pada sistem yang berlaku selama ini di negeri ini, memang memungkinkan perbuatan amar ma'ruf nahi munkar itu terpasung, slogan amar ma'ruf nahi munkar hanya menjadi hiasan lisan dan atau lidah saja. Pihak yang getol yang seharsnya memperjuangkan amar ma'ruf nahi munkar pun sepertinya "sayup-sayup tak terdengar". Kalau pun ada, hanya masih segelintir orang, dan itu pun mereka sudah korban dan mau berkorban kembali. Luar biasa dan perlu diberi apresiasi bagi anak negeri ini yang mau mengajak kepada amar ma'ruf nahi munkar tersebut.
Stop dan Harus bangkit?
Mencermati fenomena alam, yang cendrung tidak bersahabat tersebut, banjir, angin kencang, dan lainnya tersebut, sudah selayaknyalah kita menghentikan tindakan kezoliman, tindakan menindas sesama, tindakan tidak manusiawi tersebut. Mari kita bangkit!
Alam yang terbentang yang terkandung sumberdaya alam (SDA) yang melimpah, harus benar-benar dijadikan media untuk kemaslahatan umat, untuk mensejahterakan umat. Idealnya, tidak ada lagi kemiskinan (kemiskinan ekstrem) di negeri ini atau di daerah ini, jika SDA kita kelola dengan baik dan maksimal serta hanya untuk kepentingan dan kemaslahatan anak negeri ini semata, bukan untuk diri pribadi semata, kelompok dan golongan.
Sekali lagi!. Idealnya alam yang terkadangung dengan SDA yang dimilik negeri ini seharusnya untuk kehidupan dan penghidupan umat bukan untuk pribadi, kelompok, dan golongan. Jika ini dilakukan, maka berbagai beban yang memberatkan anak negeri ini yang selama ini kita pungut, kita kejar, kita buru tersebut, bisa saja kita hentikan. Bahkan anak negeri ini akan berlimpah subsidi dan berbagai bentuk bantuan cuan kemakmuran dan kesejahteraan atas kandungan alam atau SDA yang dimiliki negeri ini tersebut.
Jangan tunggu sampai musibah yang lebih besar melanda negeri ini, jangan sampai kiamat kecil bahkan besar ditampilkan-Nya, jangan sampai kemarahan alam yang memuncak melalui kekuasaan-Nya tersebut yang akan menghancurkan negeri ini dan kita semua. Mari kita bangkit! Mari kita berubah! Mari kita sadar!, mari kita bermesraan, siapa lagi yang akan membantu kita jika tidak kita sendiri. Selamat berjuang!!!!!!

Tidak ada komentar