Ogoday.com - Membangun Indonesia yang inklusif, adil, dan tangguh adalah cita-cita kolektif. Namun, implementasi visi besar ini harus dimulai dari fondasi paling dasar: penguatan kesehatan finansial di tingkat rumah tangga.
Keluarga merupakan unit terkecil dalam tatanan ekonomi makro. Jika fondasi ekonomi mikro ini rapuh, ia berpotensi besar menimbulkan risiko sistemik yang mengancam stabilitas dan ketahanan ekonomi nasional secara keseluruhan. Stabilitas keuangan sebuah negara tidak akan pernah kokoh tanpa adanya kepastian dan stabilitas di setiap rumah tangga yang menjadi penopangnya.
Diskursus mengenai stabilitas ekonomi nasional sering kali hanya berfokus pada kebi-jakan makro, regulasi industri keuangan, dan indikator PDB. Padahal, yang menjadi baris pertahanan pertama bagi ekonomi Indonesia adalah kesehatan finansial keluarga. Telah ditegaskan, semua upaya mencapai stabilitas ekonomi nasional dan pertumbuhan PDB tidak akan berarti tanpa stabilitas di tingkat akar rumput.
Oleh karena itu, isu literasi dan inklusi keuangan seharusnya tidak berhenti di tingkat kebijakan, tetapi wajib diimplementasikan secara praktis dalam penge-lolaan keuangan keluarga sehari-hari. Kesehatan finansial rumah tangga bukan persoalan domestik semata, melainkan indikator penting ketahanan ekonomi bangsa. Keluarga yang mampu mengelola utang, menabung, dan berinvestasi adalah keluarga yang tahan menghadapi guncangan baik itu inflasi, ketidakpastian global, maupun krisis ekonomi.
Dengan manajemen finansial yang baik, keluarga mampu mandiri, memitigasi risiko, dan secara aktif berkontribusi pada inves-tasi masa depan bangsa.
Untuk mencapai kesehatan finansial yang optimal dan memperkuat benteng per-tahanan ekonomi ini, ada tiga pesan kunci yang perlu dipegang teguh oleh setiap Keluarga Indonesia.
Pertama, disiplin anggaran dan pengendalian utang. Disiplin adalah fondasi utama. Menyusun dan mematuhi anggaran belanja bukan sekadar tindakan pencatatan pengeluaran rutin, tetapi tentang penetapan prioritas yang tegas antara kebutuhan (needs) dan kei-nginan (wants). Kedisiplinan ini sangat krusial di tengah derasnya arus konsumerisme dan kemudahan akses kredit.
Secara khusus, keluarga harus mewaspadai bahaya utang konsumtif yang berlebihan yang dipicu gaya hidup dan tekanan sosial. Utang jenis ini adalah penghambat utama kesehatan finansial dan kemandirian keluarga. Tren data terbaru menunjukkan urgensi masalah ini.
Berdasarkan CIEC, Data Utang Rumah Tangga di Indonesia terus meningkat. Per Januari 2025, total Utang Rumah Tangga tercatat sekitar US$135,178.3 juta. Selain itu, menurut OJK pertumbuhan eksplosif terlihat pada instrumen utang konsumtif baru, di mana produk Buy Now Pay Later (BNPL) menunjukkan pertumbuhan baki debet kredit hingga 36,66% secara tahunan per Juli 2024.Angka-angka ini adalah alarm. Utang sebaiknya bersifat produktif, yaitu utang yang mendukung peningkat-an aset, menciptakan sumber pendapatan baru (modal usaha), atau investasi masa depan (pendidikan).
Keluarga yang bijak adalah keluarga yang mengendalikan utang, bukan sebaliknya.Kedua, prioritas investasi jangka panjang. Masyarakat harus didorong untuk melangkah lebih jauh dari sekadar menabung pasif, yaitu berinvestasi secara aktif untuk masa depan. Perencanaan dana pendidik-an anak, dana pensiun, dan kepemilikan aset jangka pan-jang membutuhkan instru-men yang tidak hanya menjanjikan keuntungan, tetapi juga mengedepankan prinsip etis dan keberlanjutan.
Dalam konteks ini, instrumen keuangan berbasis syari-ah menjadi rekomendasi yang kuat. Prinsip syariah menawarkan keadilan, transparansi, dan menghindari unsur spekulasi yang berlebihan (seperti gharar dan maysir), serta menjauhi praktik ribawi. Prinsip-prinsip ini secara inheren menciptakan stabilitas finansial jangka panjang.
Rekomendasi ini didukung oleh pertumbuhan sektor yang solid dan terpercaya.Total aset industri keuangan syariah di Indonesia (tidak termasuk saham syariah) menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencapai Rp2.883,67 triliun per Desember 2024. Khusus di sektor perbankan, aset perbankan syariah tercatat sebesar Rp902,39 triliun hingga Agustus 2024, tumbuh sekitar 10,37% dari tahun sebelumnya.
Angka-angka ini menegaskan bahwa keuangan syariah bukan hanya pilihan etis, tetapi juga sektor yang resilien, stabil, dan bertumbuh kuat di tengah tantangan ekonomi, menjadikannya pilihan ideal untuk perencanaan masa depan keluarga yang berkelanjutan.
Ketiga, pendidikan finansial sejak dini dan peningkatan literasi. Fondasi kesehat-an finansial terbaik harus ditanamkan sejak dini. Pendidikan finansial dalam keluarga merupakan investasi terbesar yang dapat diberikan orang tua kepada anak, jauh lebih penting daripada sekadar warisan harta. Anak-anak perlu diajarkan konsep menunda kepuasan (delayed gratification), memahami nilai kerja keras, dan cara mengelola uang saku.
Urgensi pendidikan finansial ini disorot oleh data nasional, yang menunjukkan adanya kesenjangan serius. Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) tahun 2022, indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia berada di angka 49,68%, sedangkan indeks inklusi keuangan mencapai 85,10%.
Angka ini menunjukkan bah wa meskipun akses (inklusi) terhadap produk dan jasa keuangan tinggi, pemahaman (literasi) masyarakat masih tertinggal. Kesenjangan ini menciptakan kondisi rentan di mana masyarakat mudah salah memilih produk, terjerat utang berbunga tinggi, atau menjadi korban investasi bodong.
Oleh karena itu, keluarga harus mengambil peran proaktif sebagai guru pertama dalam menanamkan konsep dasar uang, perencanaan, financial role modeling, dan nilai-nilai pengelolaan uang yang bertanggung jawab. Tujuannya adalah agar anak tumbuh menjadi generasi yang mandiri dan bertang-gung jawab secara finansial, bukan sekadar mewarisi harta tanpa kemampuan mengelolanya.
Generasi yang melek finansial adalah prasyarat utama untuk Indonesia yang lebih maju.Penguatan kesehatan finansial keluarga merupakan investasi strategis nasional; tidak ada kebijakan makro yang akan efektif tanpa didukung ketahanan di tingkat mikro. Keluarga yang tangguh secara finansial adalah kunci untuk menciptakan bangsa yang berdaulat dan sejahtera.
Untuk mewujudkan cita-cita Indonesia Emas 2045, dibutuhkan kesadaran dan disiplin kolektif yang terfokus pada penguatan mikro, peningkatan literasi kritis untuk mengisi kesenjangan pemahaman, serta adopsi pola kelola yang etis dan berkelanjutan, termasuk mempertimbangkan instrumen investasi berbasis syariah yang menawarkan stabilitas jangka panjang.
Melalui penguatan akar ekonomi di tingkat rumah tangga ini, kita menjadikan fondasi ekonomi nasional kokoh. Keluarga yang sehat finansial akan menciptakan bangsa yang tangguh dan sejahtera, dan inilah prasyarat utama menuju Indonesia Emas 2040.

Tidak ada komentar